Tekanan dan tingkat kebutuhan hidup masyarakat yang terus meningkat akhirnya mendorong manusia berfikir untuk mencari solusi atau jalan keluar yang tepat. Banyak faktor yang menyebabkan kebutuhan ekonomi yang terus meningkat. Ketergantungan terdahap energi fosil di sinyalir menjadi salah satu penyumbangnya. Untuk itu perlu adanya alternatif-alternatif lain untuk melepaskan diri dari ketergantungan dengan energi fosil, hal ini juga sejalan dengan semangat dunia internasional untuk meninggalkan energi fosil dan beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan.

Salah satu jenis energi terbarukan yang bisa di jadikan pilihan untuk menggantikan energi fosil adalah bioetanol. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada pro dan kontra terkait pernyataan ini. Dewasa ini memang diakui bahwa harga bioetanol dirasa kurang ekonomis, banyak faktor yang melatarbelakanginya diantaranya adalah pajak, sumber bahan baku, dan biaya produksi. Sehingga hal ini menyebabkan bioetanol kurang bisa berkembang. Padahal bioetanol ini sebetulnya keberadaannya sudah dikenal sejak lama, namun faktanya tidak bisa menggeser atau bahkan menggantikan energi fosil.

Ini merupakan sebuah realita yang diakui kebenarannya. Namun demikian kedepan keberadaan dari bioetanol ini perlu dilihat dan diubah lagi strateginya, misalnya dari segi pemilihan sumber bahan baku, proses pembuatan, design peralatan produksi serta peralatan akhir dari pemanfaatan bioetanol. 

 

Dari rangkaian perjalanan panjang  penulis dalam mempelajari bioetanol mencakup beberapa aspek-aspeknya , rasa optimisme serta harapan positif pun muncul. Keyakinan akan potensi bioetanol untuk menjadi pilihan utama masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan energi ini didasari dari pengamatan dan praktek langsung dilapangan. Ilmu bioetanol itu bisa dikatakan sangat simpel dan mudah di pahami serta bisa di kerjakan oleh masyarakat umum. Dalam proses pembuatannya pun sangat sederhana tidak membutuhkan teknologi yang modern, bahkan sudah kita ketahui  bersama bahwa di beberapa wilayah aktifitas pembuatan bioetanol ini sudah di kerjakan masyarakat dari sejak dulu dengan peralatan yang sederhana. Sebagai bagian dari strategi penting ambil langkah awal pemanfaatan bioetanol bisa dimulai dari yang kecil dulu misalnya skala rumah tangga.

 

Membangun bioetanol dalam rangka mewujudkan kemandirian energi dalam arti yang sebenar-benarnya bisa diibaratkan seperti menyusun sebuah puzzel. Tiga bagian utama yang harus di perhatikan yaitu bahan baku, teknik pengolahan termasuk rancangan alat produksi, serta pemanfaatan akhir.

Bagian pertama adalah berkaitan dengan bahan baku.  Adapun bahan baku utama untuk membuat bioetanol adalah dari tanaman, ini adalah fakta yang tak terbantahkan, serta sudah menjadi pengetahuan umum. Tanaman yang bisa di olah menjadi bioetanol sangat banyak ragam dan jenis nya. Namun perlu dilakukan seleksi jenis tanaman yang mudah dibudidayakan walaupun dengan lahan terbatas, cepat panen, tahan hama, tidak butuh air yang banyak serta perawatannya mudah. Karena di indonesia ada dua musim yaitu kemarau dan hujan maka jenis tanaman tersebut juga harus adatif dengan iklim indonesia.

 Bagian kedua adalah proses pembuatan bioetanol itu sendiri. Sebagaimana sudah menjadi pengetahuan umum serta sudah banyak di lakukan oleh sebagian masyarakat indonesia, bahwa pembuatan bioetanol biasa menggunakan teknik distilasi. Sebuah teknik yang relatif mudah dan sederhana yang bisa dilakukan oleh orang umum. Adapun perangkat distilasi harus di buat dan didesain yang kecil atau portable serta handal karena energi pemanasnya menggunakan sumber energi terbarukan juga. Cukup kapasitas 1-2 liter /hari saja, tidak perlu kapasitas yang sampai puluhan liter/hari.

Bagian ketiga adalah final element atau peralatan terakhir yang akan menggunakan bioetanol tersebut. Kompor bioetanol, generator listrik bioetanol, serta mesin berbahan bakar bioetanol  adalah beberapa contoh peralatan yang bisa di gunakan dalam pengaplikasian bioetanol. Penggunaan kompor rumah tangga yang menggunakan bioetanol sebagai bahan bakar akan memberi dampak perubahan yang sangat besar dan luas. Dampak ekonomi bisnis yang ditimbulkan dari penggunaan kompor bioetanol ini juga sangat nyata. Kompor rumah tangga merupakan peralatan yang bersentuhan secara langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat di kehidupan sehari-hari. Jadi menjadi bagian dari strategi untuk menuju kemandirian energi ini adalah melalui penggunaan kompor bioetanol.

 

Saat ini perlu disadari bahwa era energi terbarukan sudah dan telah hadir di tengah kehidupan saat ini dan diproyeksikan akan menggeser penggunaan energi fosil. Dasar dari prospek bioetanol ini adalah  dukungan dari ketersediaan bahan baku jenis tanaman yang mudah dalam hal budidaya, tidak perlu lahan luas, cocok dengan kondisi iklim serta keunggulan-keunggulan lainnya. Dari penulis setidaknya ada dua jenis tanaman yang bisa diharapkan menjadi tanaman untuk bahan bioetanol, di luar jenis tanaman yang sekarang ini umum di manfaatkan untuk membuat bioetanol.