Kompor jenis ini memiliki keunggulan dalam beberapa aspek baik itu dari sisi keamanan maupun sisi pemakaian. Dengan tekanan yang rendah tentu memiliki resiko ledakan yang lebih kecil dibanding dengan kompor yang menggunakan bahan bakar bertekanan tinggi. Secara pemakaian kompor bioethanol ini relative mudah dioperasikan dan mirip dengan kompor gas yang banyak digunakan masyarakat umum saat ini.

(kompor bioethanol low pressure)

Dari prinsip kerjannya kompor ini akan mengubah bioethanol cair menjadi fase gas atau uap terlebih dahulu dengan pemanasan sebelum terbakar. Banyak sedikitnya gas yang di release oleh valve atau katub pengatur akan menentukan besar kecilnya api yang dihasilkan.

 

Untuk biaya pembuatan kompor bioethanol jenis ini juga relative lebih murah, bahkan dengan melakukan sedikit modifikasi kompor gas yang sekarang ini banyak beredar dikalangan masyarakat dapat di konversi ke kompor bioethanol jenis ini.

Sebagai penggiat energi terbarukan, tentu menjadi suatu kepuasan tersendiri untuk bisa menghadirkan pilihan alternatif kepada masyarakat terkait penggunaan kompor bioethanol ini, terlebih pemerintah telah memiliki rencana penggunaan CNG ( compressed natura gas) kedepannya sebagai pengganti elpiji. Masyarakat diharapakan dapat menilai secara objektive dengan membandingkan penggunaan dua jenis kompor yang berbeda ini yaitu kompor bioethanol dengan kompor CNG. Tentuk comparasi harus dilihat atau dalam konteks yang positifnya bukan saling menjelek-jelekan, karena spirit yang yang penulis kedepankan adalah membangun.

Penggunaan kompor bioethanol low pressure ini merupakan bagian komponen dari konsep kemandirian energi berbasis energi terbarukan yang secara personal saya usung secara mandiri. Dan penggunaan kompor berbasis CNG ini diambil opsi oleh pemerintah tentu dengan melibatkan banyak pakar atau tenaga ahli serta resources yang tidak main-main.